kali saya memberi beberapa materi umum tentang teknik kepramukaan umum
selamat membaca artikel kami. salam pramuka...
· Kode
Kehormatan Pramuka
Kode Kehormatan Pramuka diatur dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka pasal
12. Dimana kode kehormatan pramuka merupakan Kode Etik anggota gerakan pramuka
dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat sehari-hari yang diterima dengan
sukarela serta dihormati demi kehormatan dirinya. Kode Kehormatan Pramuka yang
terdiri atas Janji yang disebut Satya dan Ketentuan Moral yang disebut Darma
merupakan satu unsur dari Metode Kepramukaan dan alat pelaksanaan Prinsip Dasar
Kepramukaan.
Kode Kehormatan Gerakan Pramuka bagi anggota Gerakan Pramuka disesuaikan
dengan golongan usia dan perkembangan rohani dan jasmaninya yaitu :
1. Kode Kehormatan Pramuka Siaga terdiri atas Dwisatya dan Dwidarma
2. Kode Kehormatan Pramuka Penggalang terdiri atas Trisatya Pramuka
Penggalang dan Dasadarma
3. Kode Kehormatan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega terdiri atas
Trisatya Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega dan Dasadarma
4. Kode Kehormatan Pramuka anggota dewasa terdiri atas Trisatya anggota
dewasa dan Dasadarma.
DWI SATYA:
- Aku berjanji akan bersungguh-sungguh : menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan
dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menurut undang-undang.
- Setiap hari berbuat kebaikan”.
DWI DARMA:
- Siaga itu menurut ayah dan ibundanya.
- Siaga itu berani dan tidak putus asa”.
TRI SATYA (Untuk Pramuka Penggalang):
- Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh : menjalankan
kewajibanku terhadap Tuhan dan Negeri Kesatuan Republik Indonesia, dan
menjalankan Pancasila.
- menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri untuk membangun masyarakat.
- menepati Dasadarma
TRI SATYA (Untuk Pramuka Lainnya):
- Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh : menjalankan
kewajibanku terhadap Tuhan dan Negeri Kesatuan Republik Indonesia, dan
menjalankan Pancasila.
- menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat.
- menepati Dasadarma
DASADARMA PRAMUKA
1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3. Patriot yang sopan dan kesatria
4. Patuh dan suka bermusyawarah
5. Rela menolong dan tabah
6. Rajin, terampil dan gembira
7. Hemat, cermat dan bersahaja
8. Disiplin, berani dan setia
9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan
Lambang Gerakan Pramuka
Bentuk dan Arti Kiasan
1. Bentuk Lambang Gerakan Pramuka adalah gambar bayangan (silhouelte) tunas
kelapa.
2. Arti kiasan adalah
Buah Nyiur dalam keadaan tumbuh dinamakan CIKAL dan istilah CIKAL-BAKAL di
Indonesia berarti : "Penduduk asli yang pertama yang menurunkan generasi
baru".
Jadi lambang buah nyiur yang tumbuh itu mengkiaskan bahwa tiap pramuka
merupakan inti bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Buah nyiur dapat
bertahan lama dalam keadaan bagaimanapun juga. Jadi mengkiaskan bahwa tiap
pramuka adalah seorang yang rohaniah dan jasmaniah sehat, kuat, dan ulet, serta
menghadapi segala tantangan dalam hidup dan dalam menempuh segala ujian dan
kesukaran untuk mengabdi tanah air dan bangsa Indonesia. Nyiur dapat tumbuh
dimana saja, yang membuktikan besarnya daya upaya dalam menyesuaikan dirinya
dengan keadaan sekelilingnya. Jadi mengkiaskan bahwa tiap pramuka dapat
menyesuaikan diri dalam masyarakat di mana ia berada dan dalam keadaan yang
bagaimanapun juga. Nyiur tumbuh menjulang lurus ke atas dan merupakan salah
satu pohon tertinggi di Indonesia. Jadi mengkiaskan bahwa tiap pramuka
mempunyai cita-cita yang tinggi dan lurus, yang mulia dan jujur dan ia tetap
tegak tidak mudah diombang-ambingkan oleh sesuatu. Akar nyiur tumbuh kuat dan
erat didalam tanah. Jadi mengkiaskan tekad dan keyakinan tiap pramuka yang
berpegang pada dasar-dasar dan landasan-landasan yang baik, benar kuat dan
nyata, ialah tekad dan keyakinan yang dipakai olehnya untuk memperkuat diri
guna mencapai cita-citanya. Nyiur adalah pohon yang serba guna dari ujung atas
hingga akarnya.
“Jadi mengkiaskan bahwa tiap pramuka adalah manusia yang berguna dan
membaktikan diri dan kegunaannya kepada tanah air, bangsa dan Negara Kesatuan
Republik Indonesia serta kepada umat manusia.”
Bendera Gerakan Pramuka

Bendera Gerakan Pramuka berbentuk segi empat panjang dan beukuran tiga
banding dua, berwarna dasar putih, ditengah-tengahnya terdapat lambang Gerakan
Pramuka berwarna merah. Di bagian atas dan bawah bendera terdapat jalur merah
dengan ukuran lebar 1/10 dari lebar bendera. Letaknya 1/10 dari lebar bendera,
dari sisi atas dan sisi bawah. Pada bagian pinggiran tempat tali bendera
terdapat jalur merah sepanjang lebar bendera dengan ukuran lebarnya 1/8 dari
panjang bendera, dengan tulisan
a. untuk nama Kwartir,
b. untuk nama gugus depan dan nomor gugus depan.
Ukuran untuk tingkat :
Nasional : 200 x 300 cm
Daerah : 150 x 225 cm
Cabang : 90 x 135 cm
Ranting : 60 x 90 cm
Gugus Depan : 60 x 90 cm
Nasional : 200 x 300 cm
Daerah : 150 x 225 cm
Cabang : 90 x 135 cm
Ranting : 60 x 90 cm
Gugus Depan : 60 x 90 cm
Sejarah Pramuka
Indonesia
Sejarah Pramuka Indonesia Masa Hindia Belanda Kenyataan sejarah menunjukkan
bahwa pemuda Indonesia mempunyai saham besar dalam pergerakan perjuangan
kemerdekaan Indonesia serta ada dan berkembangnya pendidikan kepramukaan
nasional Indonesia. Dalam perkembangan pendidikan kepramukaan itu tampak adanya
dorongan dan semangat untuk bersatu, namun terdapat gejala adanya berorganisasi
yang Bhinneka. Organisasi kepramukaan di Indonesia dimulai oleh adanya cabang
"Nederlandse Padvinders Organisatie" (NPO) pada tahun 1912, yang pada
saat pecahnya Perang Dunia I memiliki kwartir besar sendiri serta kemudian
berganti nama menjadi "Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging"
(NIPV) pada tahun 1916. Organisasi Kepramukaan yang diprakarsai oleh bangsa
Indonesia adalah "Javaanse Padvinders Organisatie" (JPO); berdiri
atas prakarsa S.P. Mangkunegara VII pada tahun 1916. Kenyataan bahwa
kepramukaan itu senapas dengan pergerakan nasional, seperti tersebut di atas
dapat diperhatikan pada adanya "Padvinder Muhammadiyah" yang pada
1920 berganti nama menjadi "Hisbul Wathon" (HW); "Nationale
Padvinderij" yang didirikan oleh Budi Utomo; Syarikat Islam mendirikan
"Syarikat Islam Afdeling Padvinderij" yang kemudian diganti menjadi
"Syarikat Islam Afdeling Pandu" dan lebih dikenal dengan SIAP,
Nationale Islamietishe Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten
Bond (JIB) dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) didirikan
oleh Pemuda Indonesia. Hasrat bersatu bagi organisasi kepramukaan Indonesia
waktu itu tampak mulai dengan terbentuknya PAPI yaitu "Persaudaraan Antara
Pandu Indonesia" merupakan federasi dari Pandu Kebangsaan, INPO, SIAP,
NATIPIJ dan PPS pada tanggal 23 Mei 1928. Federasi ini tidak dapat bertahan
lama, karena niat adanya fusi, akibatnya pada 1930 berdirilah Kepanduan Bangsa
Indonesia (KBI) yang dirintis oleh tokoh dari Jong Java Padvinders/Pandu
Kebangsaan (JJP/PK), INPO dan PPS (JJP-Jong Java Padvinderij); PK-Pandu
Kebangsaan). PAPI kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan
Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada bulan April 1938. Antara tahun 1928-1935
bermuncullah gerakan kepramukaan Indonesia baik yang bernafas utama kebangsaan
maupun bernafas agama. kepramukaan yang bernafas kebangsaan dapat dicatat Pandu
Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK),
Sinar Pandu Kita (SPK) dan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI). Sedangkan yang
bernafas agama Pandu Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathon, Kepanduan Islam
Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma
(Kristen), Kepanduan Azas Katholik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia
(KMI). Sebagai upaya untuk menggalang kesatuan dan persatuan, Badan Pusat
Persaudaraan Kepanduan Indonesia BPPKI merencanakan "All Indonesian
Jamboree". Rencana ini mengalami beberapa perubahan baik dalam waktu
pelaksanaan maupun nama kegiatan, yang kemudian disepakati diganti dengan
"Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem" disingkat PERKINO dan
dilaksanakan pada tanggal 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta. Masa Bala Tentara Dai
Nippon "Dai Nippon" ! Itulah nama yang dipakai untuk menyebut Jepang
pada waktu itu. Pada masa Perang Dunia II, bala tentara Jepang mengadakan
penyerangan dan Belanda meninggalkan Indonesia. Partai dan organisasi rakyat
Indonesia, termasuk gerakan kepramukaan, dilarang berdiri. Namun upaya
menyelenggarakan PERKINO II tetap dilakukan. Bukan hanya itu, semangat
kepramukaan tetap menyala di dada para anggotanya. Masa Republik Indonesia
Sebulan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa tokoh kepramukaan
berkumpul di Yogyakarta dan bersepakat untuk membentuk Panitia Kesatuan
Kepanduan Indonesia sebagai suatu panitia kerja, menunjukkan pembentukan satu
wadah organisasi kepramukaan untuk seluruh bangsa Indonesia dan segera
mengadakan Konggres Kesatuan Kepanduan Indonesia. Kongres yang dimaksud,
dilaksanakan pada tanggal 27-29 Desember 1945 di Surakarta dengan hasil
terbentuknya Pandu Rakyat Indonesia. Perkumpulan ini didukung oleh segenap
pimpinan dan tokoh serta dikuatkan dengan "Janji Ikatan Sakti", lalu
pemerintah RI mengakui sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan yang
ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan
No.93/Bag. A, tertanggal 1 Februari 1947. Tahun-tahun sulit dihadapi oleh Pandu
Rakyat Indonesia karena serbuan Belanda. Bahkan pada peringatan kemerdekaan 17
Agustus 1948 waktu diadakan api unggun di halaman gedung Pegangsaan Timur 56,
Jakarta, senjata Belanda mengancam dan memaksa Soeprapto menghadap Tuhan, gugur
sebagai Pandu, sebagai patriot yang membuktikan cintanya pada negara, tanah air
dan bangsanya. Di daerah yang diduduki Belanda, Pandu Rakyat dilarang berdiri,.
Keadaan ini mendorong berdirinya perkumpulan lain seperti Kepanduan Putera
Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), Kepanduan Indonesia Muda (KIM).
Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan negeri tercinta merupakan
pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepramukaan di Indonesia, kemudian
berakhirlah periode perjuangan bersenjata untuk menegakkan dan mempertahakan
kemerdekaan itu, pada waktu inilah Pandu Rakyat Indonesia mengadakan Kongres II
di Yogyakarta pada tanggal 20-22 Januari 1950. Kongres ini antara lain
memutuskan untuk menerima konsepsi baru, yaitu memberi kesempatan kepada
golongan khusus untuk menghidupakan kembali bekas organisasinya masing-masing
dan terbukalah suatu kesempatan bahwa Pandu Rakyat Indonesia bukan lagi
satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia dengan keputusan Menteri PP
dan K nomor 2344/Kab. tertanggal 6 September 1951 dicabutlah pengakuan pemerintah
bahwa Pandu Rakyat Indonesia merupakan satu-satunya wadah kepramukaan di
Indonesia, jadi keputusan nomor 93/Bag. A tertanggal 1 Februari 1947 itu
berakhir sudah. Mungkin agak aneh juga kalau direnungi, sebab sepuluh hari
sesudah keputusan Menteri No. 2334/Kab. itu keluar, maka wakil-wakil
organi-sasi kepramukaan menga-dakan konfersensi di Ja-karta. Pada saat inilah
tepatnya tanggal 16 September 1951 diputuskan berdirinya Ikatan Pandu Indonesia
(IPINDO) sebagai suatu federasi. Pada 1953 Ipindo berhasil menjadi anggota
kepramukaan sedunia Ipindo merupakan federasi bagi organisasi kepramukaan
putera, sedangkan bagi organisasi puteri terdapat dua federasi yaitu PKPI
(Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia) dan POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu
Puteri Indonesia). Kedua federasi ini pernah bersama-sama menyambut singgahnya
Lady Baden-Powell ke Indonesia, dalam perjalanan ke Australia. Dalam peringatan
Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-10 Ipindo menyelenggarakan Jambore
Nasional, bertempat di Ragunan, Pasar Minggu pada tanggal 10-20 Agustus 1955,
Jakarta. Ipindo sebagai wadah pelaksana kegiatan kepramukaan merasa perlu
menyelenggarakan seminar agar dapat gambaran upaya untuk menjamin kemurnian dan
kelestarian hidup kepramukaan. Seminar ini diadakan di Tugu, Bogor pada bulan
Januari 1957. Seminar Tugu ini meng-hasilkan suatu rumusan yang diharapkan
dapat dijadikan acuan bagi setiap gerakan kepramukaan di Indonesia. Dengan
demikian diharapkan ke-pramukaan yang ada dapat dipersatukan. Setahun kemudian
pada bulan Novem-ber 1958, Pemerintah RI, dalam hal ini Departemen P dan K
mengadakan seminar di Ciloto, Bogor, Jawa Barat, dengan topik
"Penasionalan Kepanduan". Kalau Jambore untuk putera dilaksanakan di
Ragunan Pasar Minggu-Jakarta, maka PKPI menyelenggarakan perkemahan besar untuk
puteri yang disebut Desa Semanggi bertempat di Ciputat. Desa Semanggi itu
terlaksana pada tahun 1959. Pada tahun ini juga Ipindo mengirimkan kontingennya
ke Jambore Dunia di MT. Makiling Filipina. Nah, masa-masa kemudian adalah masa
menjelang lahirnya Gerakan Pramuka. KELAHIRAN GERAKAN PRAMUKA Latar Belakang
Lahirnya Gerakan Pramuka Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan
menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan,
kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960. Dari ungkapan yang telah
dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepramukaan di
Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah
seluruh anggota perkumpulan itu. Peraturan yang timbul pada masa perintisan ini
adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang
rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana. Dalam ketetapan ini dapat
ditemukan Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan
adalah Pancasila. Seterusnya penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan
pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah
untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kemudian kepanduan supaya
dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powellisme (Lampiran C Ayat 8). Ketetapan
itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah
Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin
gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara. Hari Kamis malam
itulah Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui,
metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan
yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka.
M o r s e

Morse sebenarnya nama orang Amerika yang menemukan sebuah cara agar setiap
manusia dapat saling berhubungan. Cara tersebut ditemukannya pada tahun 1837
tetapi baru dapat diterima untuk dipergunakan di seluruh dunia tahun 1851 dalam
Konferensi Internasional. Semboyan morse dapat dilakukan dengan berbagai cara
antara lain : 1. Suara, yaitu dengan menggunakan peluit 2. Sinar yaitu dengan
menggunakan senter 3. Tulisan yaitu dengan menggunakan titik (.) dan setrip (-)
4. Bendera yaitu dengan bendera morse. Berikut ini adalah kode morse yang telah
disepakati bersama.
Semaphore

PERATURAN BARIS BARIS (P.B.B)
Peraturan Baris Berbaris yang digunakan di lingkungan Pramuka ada dua macam
yakni Baris berbaris menggunakan tongkat dan tanpa tongkat. Untuk baris
berbaris menggunakan tongkat memiliki tata cara tersendiri di lingkungan
Pramuka. Adapun baris berbaris tanpa menggunakan tongkat mengikuti tata cara
yang telah diatur dalam Peraturan Baris Berbaris milik TNI/POLRI .
Apa itu Baris-Berbaris ?
1. Baris Berbaris Pengertian Baris berbaris adalah suatu ujud latuhan fisik,
yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang
diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu. Maksud dan tujuan Guna
menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas, rasa disiplin dan rasa tanggung
jawab. Yang dimaksud dengan menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas adalah
mengarahkan pertumbuhan tubuh yang diperlukan oleh tugas pokok, sehingga secara
jasmani dapat menjalankan tugas pokok tersebut dengan sempurna. Yang dimaksud
rasa persatuan adalah adanya rasa senasib sepenanggungan serta ikatan yang
sangat diperlukan dalam menjalankan tugas. Yang dimaksud rasa disiplin adalah
mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi yang pada hakikatnya
tidak lain daripada keikhlasan penyisihan pilihan hati sendiri. Yang dimaksud
rasa tanggung jawab adalah keberanian untuk bertindak yang mengandung resiko
terhadap dirinya, tetapi menguntungkan tugas atau sebaliknya tidak mudah
melakukan tindakan-tindakan yang akan dapat merugikan.
1. Aba-aba
- Pengertian Aba-aba adalah suatu
perintah yang diberikan oleh seseorang Pemimpin kepada yang dipimpin untuk
dilaksanakannya pada waktunya secara serentak atau berturut-turut.
- Macam aba- abaAda tiga macam aba-aba yaitu :
1. Aba-aba petunjuk
2. Aba-aba peringatan
3. Aba-aba pelaksanaan
1) Aba-aba petunjuk dipergunakan hanya jika
perlu untuk menegaskan maksud daripada aba-aba peringatan/pelaksanaan.
· Contoh: Kepada
Pemimpin Upacara-Hormat - GERAK
Untuk amanat-istirahat
di tempat - GERAK. .
2) Aba-aba peringatan adalah inti perintah
yang cukup jelas, untuk dapat dilaksanakan tanpa ragu-ragu.
· Contoh: a) Lencang kanan
- GERAK (bukan lancang kanan)
b) Istirahat di tempat -
GERAK (bukan ditempat istirahat)
3) Aba-aba pelaksanaan adalah ketegasan
mengenai saat untuk melaksanakan aba-aba pelaksanan yang dipakai ialah:
a) GERAK
b) JALAN
c) MULAI
· GERAK: adalah untuk
gerakan-gerakan kaki yang dilakukan tanpa meninggalkan tempat dan
gerakan-gerakan yang memakai anggota tubuh lain.
Contoh:
-jalan ditempat -GERAK
-siap -GERAK
-hadap kanan -GERAK
-lencang kanan
-GERAK
· JALAN: adalah utuk
gerakan-gerakan kaki yang dilakukan dengan meninggalkan tempat. Contoh:
-haluan kanan/kiri -
JALAN
-dua langkah ke depan
-JALAN
-satu langkah ke
belakang - JALAN
· Catatan:
Apabila gerakan
meninggalkan tempat itu tidak dibatasi jaraknya, maka aba-aba harus didahului
dengan aba-aba peringatan –MAJU
Contoh:
-maju - JALAN -haluan
kanan/kiri - JALAN
-hadap kanan/kiri maju - JALAN
-melintang kanan/kiri maju -JALAN
· Tentang istilah: “maju”
Pada dasarnya digunakan sebagai aba-aba peringatan terhadap pasukan dalam
keadaan berhenti. Pasukan yang sedang bergerak maju, bilamana harus berhenti
dapat diberikan aba-aba HENTI.
Misalnya: Ada aba-aba
hadap kanan/kiri maju - JALAN karena dapat pula diberikan aba-aba : hadap
kanan/kiri henti GERAK. Ada aba-aba hadap kanan/kiri maju-JALAN karena dapat
pula diberikan aba-aba : hadap kanan/kiri henti GERAK. Balik kanan maju/JALAN,
karena dapat pula diberikan aba-aba : balik kanan henti-GERAK.
Tidak dapat diberikan
aba-aba langkah tegap maju JALAN, aba-aba belok kanan/kiri maju-JALAN terhadap
pasukan yang sedang berjalan dengan langkah biasa, karena tidak dapat diberikan
aba-aba langkah henti-GERAK, belok kanan/kiri-GERAK.
· Tentang aba-aba :
“henti” Pada dasarnya aba-aba peringatan henti digunakan untuk menghentikan
pasukan yang sedang bergerak, namun tidak selamanya aba-aba peringatan henti
ini harus diucapkan. Contoh: Empat langkah ke depan –JALAN, bukan barisan –
jalan. Setelah selesai pelaksanaan dari maksud aba-aba peringatan, pasukan
wajib berhenti tanpa aba-aba berhenti.
MULAI : adalah untuk
dipakai pada pelaksanaan perintah yang harus dikerjakan berturut-turut. Contoh:
-hitung -MULAI -tiga bersaf kumpul -MULAI
Cara memberi aba-aba:
a) Waktu memberi aba-aba, pemberi aba-aba harus berdiri dalam sikap
sempurna dan menghadap pasukan, terkecuali dalam keadaan yang tidak mengijinkan
untuk melakukan itu. b) Apabila aba-aba itu berlaku juga untuk si pemberi
aba-aba, maka pemberi aba-aba terikat pada tempat yang telah ditentukan
untuknya dan tidak menghadap pasukan.
Contoh: Kepada Pembina Upacara – hormat – GERAK Pelaksanaanya
Pada waktu memberikan aba-aba mengahdap ke arah yang diberi hormat sambil
melakukan gerakan penghormatan bersama-sama dengan pasukan. Setelah
penghormatan selesai dijawab/dibalas oleh yang menerima penghormatan, maka dalm
keadaan sikap sedang memberi hormat si pemberi aba-aba memberikan aba-aba tegak
: GERAK dan kembali ke sikap sempurna.
c) Pada taraf permulaan aba-aba yang ditunjukan kepada pasukan yang sedang
berjalan/berlari, aba-aba pelaksanaan gerakannya ditambah 1 (satu) langkah pada
waktu berjala, pada waktu berlari ditambah 3 (tiga) langkah. Pada taraf
lanjutan, aba-aba pelaksanaan dijatuhkan pada kaki kanan ditambah 2 (dua)
langkah untuk berjalan / 4 (empat) langkah untuk berlari.
d) Aba-aba diucapkan dengan suara nyaring-tegas dan bersemangat.
e) Aba-aba petunjuk dan peringatan pada waktu pengucapan hendaknya diberi
antara.
f) Aba-aba pelaksanaan pada waktu pengucapan hendaknya dihentakkan.
g) Antara aba-aba peringatan dan pelaksanaan hendaknya diperpanjang
disesuaikan dengan besar kecilnya pasukan.
h) Bila pada suatu bagian aba-aba diperlukan pembetulan maka dilakukan
perintah ULANG ! Contoh: Lencang kanan = Ulangi – siap GERAK
1. Gerakan Perorangan – Gerakan Dasar
a. Sikap sempurna
Aba-aba : Siap - GERAK. Pelaksanaanya : pada aba-aba pelaksanaan
badan/tubuh berdiri tegap, ke dua tumit rapat, ke dua telapak kaki membentuk
sudut 60…, lutut lurus paha dirapatkan, berat badan di atas ke dua kaki, perut
ditarik sedikit, dada dibusungkan, pundak ditarik sedikit ke belakang dan tidak
dinaikkan, lengan rapat pada badan, pergelangan tangan lurus, jari-jari tangan
menggenggam tidak terpaksa rapat pada paha, ibu jari segaris dengan jahitan
celana, leher lurus, dagu ditarik, mulut ditutup, gigi dirapatkan, mata
memandang tajam ke depan, benafas sewajarnya.
b. Istirahat
Aba-aba istirahat ditempat – GERAK 1) Pada aba-aba pelaksanaan, kaki kiri
dipindahkan ke samping kiri dengan jarak sepanjang telapak kaki (30cm) 2) Ke
dua belah tangan dibawa ke belakang dan dibawah pinggang, punggung tangan kanan
di atas telapak tangan kiri, tangan kanan dikepalkan dengan dilemaskan, tangan
kiri memegang pergelangan tangan kanan di antara ibu jari dan telunjuk, ke dua
tangan dilemaskan, badan dapat bergerak. Catatan: a) Pasukan dalam keadaan
istirahat di tempat, pemimpin atau atasan lainnya datang untuk memberikan
perhatian atau petunjuk-petunjuk, maka atas ucapan pemimpin/atasan dengan
menggunakan kata Perhatian pasukan segera mengambil sikap sempurna tanpa
mengucapkan kata siap, kemudian mengambil sikap istirahat. b) Pada kata
perhatian, selesai atau sekian, pasukan mengambil sikap sempurna tanpa
didahului aba-aba kemudian kembali ke sikap istirahat di tempat. c) Maksud dari
sikap siap terakhir ini adalah sebagai jawaban tanpa suara, bahwa
petunjuk-petunjuk yang diberikan akan dijalankan
c. Lencang kanan/kiri :
(hanya dalam bentuk bersaf) Aba-aba : Lencang kanan/kiri - GERAK Pelaksanaannya:
Gerakan ini dijalankan dalam sikap sempurna. 1) Pada aba-aba pelaksanaan, saf
depan mengangkat lengan kanan/kiri ke samping, jari-jari kanan/kiri menggenggam
menyentuh bahu kanan/kiri orang yang berada di sebelah kana/kirinya, punggung
tangan menghadap ke atas, bersamaan dengan ini kepala dipalingkan ke kanan/kiri
tidak berubah tempat masing-masing meluruskan diri 2) Saf tengah dan saf
belakang kecuali penjuru, setelah meluruskan ke depan dengan pandangan mata,
ikut pula memalingkan muka ke samping dengan tidak mengangkat tangan. 3)
Penjuru saf tengan dan belakang mengambil antar ke depan 1 (satu) lengan
kanan/kiri ditambah 2 (dua) kepalan tangan dan setelah lurus menurunkan tangan
kanan/kiri tanpa menunggu aba-aba. 4) Pada aba-aba tegak-GERAK semua dengan
serentak menurunkan lengan dan memalingkan muka ke depan dan berdiri dalam
sikap sempurna. 5) Pada waktu pemimpin pasukan memberikan aba-aba lencang
kanan/kiri dan barisan sedang meluruskan safnya, Pemimpin pasukan yang berada
dalam barisan itu memberikan kelurusan saf dari sebelah kanan/kiri pasukan
dengan menitikberatkan pada kelurusan tumit (bukan ujung depan sepatu).
Catatan: a) Untuk menghindarkan keributan pada waktu mengangkat lengan
kanan/kiri, hendaknya lengan diluruskan melalui belakang punggung orang yang
berada di samping, kalau jarak 1 (satu) lengan tidak cukup. Dengan demikian
dihindarkan gerakan seolah-olah meninju rekannya yang berada di smaping. b)
Kelurusan barisan dilihat dari tumit.
d. Setengah lencang kanan/kiri Aba-aba
Setengah lencang kanan/kiri - GERAK Pelaksanaannya: Seperti pada waktu
lencang kanan/kiri, tetapi tangan kanan/kiri di pinggang (bertolak pinggang)
dengan siku menyentuh lengan orang yang berdiri disebelahnya, pergelangan
tangan lurus, ibu jari di sebelah belakang pinggang, empat jari lainnya rapat
pada pinggang sebelah depan (khusus saf depan). Pada aba-aba tegak GERAK dengan
serentak menurunkan lengan sambil memalingkan muka ke depan dan berdiri dalam
sikap sempurna.
e. Lencang depan (hanya dalam bentuk berbanjar)
Aba-aba : Lencang depan - GERAK Pelaksanaannya: 1) Penjuru tetap sikap
sempurna : nomor dua dan seterusnya meluruskan ke depan dengan mengangkat
tangan dengan jarak satu lengan ditambah dua kepalan tangan. 2) Saf depan
banjar tengah dan kiri mengambil antara satu lengan ke samping kanan, setelah
lurus menurunkan tangan dan memalingkan kepala kembali ke depan dengan serentak
tanpa menunggu aba-aba. 3) Banjar tengah/kiri tanpa mengangkat tangan
f. Cara berhitung Aba-aba :
Hitung – MULAI Pelaksanaannya:
1) Jika bersaf, pada
aba-aba peringatan penjuru tetap melihat ke depan, saf terdepan memalingkan
mukanya ke kanan.
2) Pada aba-aba
pelaksanaan, berturut-turut di mulai dari penjuru menyebutkan nomornya sambil
memalingkan muka ke depan.
3) Pengucapan nomor secara tegas dan tepat.
4) Jika berbanjar, pada aba-aba peringatan semua anggota tetap dalam sikap
sempurna.
5) Pada aba-aba
pelaksanaan mulai dari penjuru kanan berturut-turut ke belakang menyebutkan
nomornya masing-masing.
6) Jika pasukan berbanjar/bersaf
tiga, maka yang berada paling kiri mengucapkan : LENGKAP atau KURANG
SATU/KURANG DUA.
1. Perubahan Arah (dalam keadaan berhenti)
a) Hadap kanan/kiri Aba-aba : Hadap kanan/kiri – GERAK
1) Kaki kiri/kanan
diajukan melintang di depan kaki kanan/kiri lekukan kaki kanan/kiri berada
di ujung kaki kanan/kiri, berat badan berpindah ke kaki kiri/kanan.
2) Tumit kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 90°
3) Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri.
b) Hadap serong kanan/kiri Aba-aba : Hadap serong kanan/kiri – GERAK
Pelaksanaannya:
1) Kaki kiri/kanan diajukan ke muka sejajar dengan kaki kanan/kiri
2) Berputarlah arah 45° ke kanan/kiri
3) Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri
c) Balik kanan Aba-aba : Balik kanan/kiri – GERAK Pelaksanaannya :
1) Pada aba-aba pelaksanaan kaki kiri diajukan melintang (lebih dalam dari
hadap kanan) di depan kaki kanan.
2) Tumit kaki kanan beserta badan diputar ke kanan 180°
3) Kaki kanan/kiri dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri.
Catatan: Dalam keadaan berhenti pada hitungan ke tiga, kaki dirapatkan
dan kembali ke sikap sempurna Dalam keadaan berhenti berjalan pada hitungan
ketiga, kaki kanan/kiri tidak dirapatkan melainkan dilangkahkan 0,5 langkah
dengan cara dihentikan.
d) Cara berkumpul Aba-aba : 3 bersaf/ 3 berbanjar kumpul - MULAI
Pelaksanannya :
1) Pelatih menunjuk
seorang anggota sebagai penjuru dan orang yang ditunjuk mengulangi perintah
yang diberikan oleh pelatih. Contoh: Sdr.Gatot sebagai penjuru. Aba-aba pelatih
: Gatot sebagai penjuru. Oleh orang yang ditunjuk (dalam sikap sempurna)
aba-aba diulangi : Gatot sebagai penjuru.
2) Orang yang ditunjuk tadi lari dan berdiri di depan pelatih ± 4 langkah
3) Setelah aba-aba
pelaksanaan MULAI diberikan pelatih, maka orang-orang lainnya berlari dan
berdiri disamping kiri penjuru serta meluruskan diri seperti pada waktu lencang
kanan.
4) Pada waktu berkumpul,
penjuru melihat ke kiri setelah lurus, penjuru memberikan isyarat dengan
perkataan LURUS, pada isyarat ini penjuru nelihat ke depan, yang lainnya (saf
depan) menurunkan lengannya dan kembali ke sikap sempurna.
e) Cara latihan memberi hormat Aba-aba : Hormat - GERAK Pelaksanaannya
(dengan tutup kepala, keadaan berhenti)
1) Pada aba-aba pelaksanaan,
dengan gerakan cepat tangan kanan diangkat ke arah pelipis kanan, siku-siku 15°
serong ke depan, kelima jari rapat dan lurus, telapak tangan serong ke bawah
dan kiri ujung, jari tengah dan telunjuk mengenai pinggir bawah dari tutup
kepala setinggi pelipis.
2) Pergelangan tangan
lurus, bahu tetap seperti dalam sikap sempurna, pandangan mata tertuju kepada
yang diberi hormat.
3) Jika tutup kepala mempunyai klep, maka jari tengah mengenai pinggir
klep.
4) Jika selesai
menghormat, maka lengan kanan lurus diturunkan secara cepat ke sikap
sempurna.
f) Bubar Aba-aba : Bubar - JALAN Pelaksanaannya; Pemberian aba aba
tersebut dilaksanakan dalam keadaan sikap sempurna. Setelah melakukan
penghormatan kemudian balik kanan dan setelah menghitung dua hitungan dalam
hati, lalu bubar.
g) Jalan di tempat Aba-aba: Jalan ditempat - GERAK Pelaksaannya: Gerakan
dimulai dengan mengangkat kaki kiri, lutut berganti-ganti diangkat, paha
rata-rata, ujung kaki menuju ke bawah, tempo langkah sesuai dengan langkah
biasa, badan tegak, pandangan mata tetap ke depan, lengan dirapatkan pada badan
(tidak melenggang) Dari jalan ke tempat berhenti. Aba-aba : Henti – GERAK
Pelaksanaannya: Pada aba-aba pelaksanaan dapat dijatuhkan kaki kiri/kanan,pada
hitungan ke dua kaki kiri/kanan diharapkan pada kaki kiri/kanan dan kembali ke
sikap sempurna.
h) Membuka/menutup barisan. Aba-aba : Buka barisan – JALAN Pada aba-aba
pelaksanaan regu kanan dan kiri membuat satu langkah ke samping kanan dan kiri,
sedang regu tangah tetap di tempat.
Catatan : Membuka barisan gunanya untuk memudahkan pemeriksaan. Tutup barisan
Aba-aba :tutup barisan – JALAN Pelaksanannya : Pada aba-aba pelaksanaan regu
kanan dan kiri membuat satu langkah kembali ke samping kanan dan kiri, sedang
regu tengah tetap ditempat.
Gerakan berjalan dengan panjang tempo dan macam langkah Macam langkah
Panjangnya Tempo
1. Langkah biasa 65cm 120 tiap menit
2. Langkah tegap 65cm 120 tiap menit
3. Langkah perlahan 40cm 30 tiap menit
4. Langkah kesamping 40cm 70 tiap menit
5. Langkah ke belakang 40cm 70 tiap menit
6. Langkah ke depan 60cm 70 tiap menit
7. Langkah di waktu lari 80cm 165 tiap menit
A. MAJU – JALAN
Dari sikap sempurna
Aba-aba : Maju – JALAN Pelaksanaannya:
1) Pada aba-aba pelaksanaan kaki kiri diayunkan ke depan, lutut lurus,
telapak kaki diangkat rata sejajar dengan tanah setinggi ± 15 cm, kemudian dihentakkan
ke tanah dengan jarak setengah langkah dan selanjutnya berjalan dengan langkah
biasa.
2) Langkah pertama dilakukan dengan melenggangkan lengan kanan ke depan
90°, lengan kiri 30° ke belakang, pada langkah selanjutnya lengan atas dan
bawah lurus dilenggangkan ke depan 45°, dan ke belakang 30°. Seluruh anggota
meluruskan barisan ke depan dengan melihat pada belakang leher. Dilarang keras
: berbicara-melihat kanan/kiri Pada waktu melenggangkan tangan supaya jangan
kaku.
B. LANGKAH BIASA
1) Pada waktu berjalan,
kepala dan badan seperti pada waktu sikap sempurna. Waktu mengayunkan kaki ke
depan lutut dibengkokkan sedikit (kaki tidak boleh diseret). Kemudian
diletakkan ke tanah menurut jarak yang telah ditentukan. 2) Cara melangkahkan
kaki seperti pada waktu berjalan biasa. Pertama tumit diletakkan di tanah
selanjutnya lurus ke depan dan ke belakang di samping badan. Ke depan 45°, ke
belakang 30°. Jari-jari tangan digenggam, dengan tidak terpaksa, punggung ibu
jari menhadap ke atas.
C. LANGKAH TEGAP
1) Dari sikap sempurna
Aba-aba : Langkah tegap – JALAN Pelaksanaannya : Mulai berjalan dengan kaki
kiri, langkah pertama selebar setengah langkah, selanjutnya seperti jalan biasa
(panjang dan tempo) dengan cara kaki dihentakkan terus menerus tetapi tidak dengan
berlebih-lebihan, telapak kaki rapat dan sejajar dengan tanah, lutut kaki tidak
boleh diangkat tinggi. Bersama dengan langkah pertama lengan dilenggangkan
lurus ke depan dan ke belakang di samping badan, (lengan tangan 90° ke depan
dari 30° ke belakang). Jari-jari tangan digenggam dengan tidak terpaksa,
punggung ibu jari menghadap ke atas.
2) Dari langkah biasa
Aba-aba : Langkah tegap – JALAN Pelaksanaannya : Aba-aba pelaksanaan diberikan
pada waktu kaki kiri jatuh di tanah, ditambah satu langkah selanjtnya mulai
berjalan seperti tersebut pasa butir 1.
3) Kembali ke langkah
biasa Aba-aba : Langkah biasa – JALAN Pelaksanaannya : Aba-aba diberikan pada
waktu kaki kiri jatuh di tanah ditambah satu langkah dan mulai berjalan dengan
langkah biasa, hanya langkah pertama…….
Catatan : Dalam lsedang
berjalan cukup menggunakan aba-aba peringatan : Langkah tegap/langkah
biasa-JALAN, pada tiap-tiap perubahan langkah (tanpa kata maju). Tapak
kaki pada saat menginjak tanah tidak dihentakkan, tetapi diletakkan rata-rata
untuk lebih khidmat.
4) Berhenti dalam langkah perlahan Aba-aba : Henti – GERAK Pelaksanaannya
:
· Dalam keadaan sedang berjalan, aba-aba adalah
“langkah perlahan JALAN” yang diberikan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh di
tanah ditambah selangkah dan kemudian mulai berjalan dengan langkah
perlahan.
D. LANGKAH PERLAHAN
1) Untuk bergabung (mengantar jenazah dalam upacara kemiliteran)
Aba-aba : Langkah
perlahan maju – JALAN Pelaksanaannya :
a) Gerakan dilakukan
dengan sikap sempurna
b) Pada aba-aba “jalan”,
kaki kiri dilangkahkan ke depan, setelah kaki kiri menapak di tanah segera
disusul dengan kaki kanan ditarik ke depan dan ditahan sebentar di sebelah mata
kaki kiri, kemudian dilanjutkan ditatapkan kaki kanan di depan kaki kiri.
c) Gerakan selanjutnya
melakukan gerakan-gerakan seperti semula. Catatan :
E. LANGKAH KE SAMPING Aba-aba : ……..Langkah ke kanan/kiri – JALAN
Pelaksanaannya : Pada aba-aba pelaksanaan kaki kiri/kanan dilanjutkan ke
samping kanan/kiri sepanjang 40 cm. Selanjutnya kaki kiri/kanan dirapatkan pada
kaki kiri/kanan.Sikap badan tetap seperti pada sikap sempurna,
sebanyak-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.
F. LANGKAH KE BELAKANG Aba-aba : ……..Langkah ke belakang – JALAN
Pelaksanaannya : Pada aba-aba pelaksanaan, peserta melangkah ke belakang mulai
kaki kiri menurut panjangnya langkah dan sesuai dengan tempo yang telah
ditentukan, menurut jumlah langkah yang diperintahkan. Lengan tidak boleh
dilenggangkan dan sikap badan seperti dalam sikap sempurna. Sebanyka-banyaknya
hanya boleh dilakukan empat langkah.
G. LANGKAH KE DEPAN Aba-aba : …….Langkah ke depan – JALAN Pelaksanaannya :
Pada aba-aba pelaksanaan, peserta melangkahkan kaki ke depan mulai dengan kaki
kiri menurut panjangnya langkah dan tempat yang telah ditentukan, menurut
jumlah langkah yang diperintahkan. Gerakan kaki seperti gerakan langkah tegap
dan dihentikan dan sikap seperti sikap sempurna. Sebanyak-banyaknya hanya boleh
dilakukan empat langkah.
H. LANGKAH DI WAKTU LARI
1) Dari sikap sempurna
Aba-aba : Lari maju – JALAN Pelaksanaannya: Aba-aba peringatan ke dua tangan
dikepalkan dengan lemas dan diletakkan di pinggang sebelah depan dengan
punggung tangan menghadap keluar, ke dua siku sedikit ke belakang, badan agak
dicondongkan ke depan. Pada aba-aba pelaksanaan, dimulai lari dengan
menghentakkan kaki kiri setengah langkah dan selanjutnya menurut panjang
langkah dan tempo yang ditentukan dengan kaki diangkat secukupnya. Telapak kaki
diletakkan dengan ujung telapak kaki terlebih dahulu, lengan dilenggangkan
secara tidak kaku.
2) Dari langkah biasa
Aba-aba : Lari – JALAN Pelaksanaannya: Aba-aba peringatan pelaksanaannya sama
dengan ayat
1. Aba-aba pelaksanaan
diberikan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh ke tanah kemudian ditambah satu
langkah, selanjutnya berlari menurut ketentuan yang ada.
3) Kembali ke langkah
biasa Aba-aba : Langkah biasa – JALAN Pelaksanaannya : Aba-aba pelaksanaan
diberikan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh ke tanah ditambah tiga langkah,
kemudian berjalan dengan langkah biasa, dimuali dengan kaki kiri dihentakkan;
bersama dengan itu kedua lengan digenggam. Catatan : Untuk berhenti dari
keadaan berlari aba-aba seperti langkah biasa henti – GERAK. Aba-aba
pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh ke tanah ditambah tiga
langkah, selanjutnya kaki dirapatkan kemudian kedua kepal tangan diturunkan
untuk mengambil sikap sempurna.
I. LANGKAH MERDEKA
1) Dari langkah biasa
Aba-aba : Langkah merdeka – JALAN Anggota berjalan bebas tanpa terikat pada
ketentuan panjang, tempo dan ketentuan langkah. Atas pertimbangan Pimpinan,
anggota dapat dijinkan untuk membuat sesuatu yang dalam keadaan lain terlarang
(antara lain berbicara, buak topi, menghapus keringat). Langkah merdeka
biasanya dilakukan untuk menempuh jalan jauh/diluar kota/lapangan yang tidak
rata. Anggota tetap dilarang meninggalkan barisan.
2) Kembai ke langkah
biasa Untuk melaksanakan gerakan ini lebih dahulu harus diberikan
……………….samakan langkah. Setelah langkah barisan sama, Pemimpin dapat memberikan
aba-aba peringatan dan pelaksanaan.
3) Aba-aba : Langkah
biasa – JALAN Pelaksanaannya : Seperti tersebut pada petunjuk dari langkah
tegap ke langkah biasa.
J. GANTI LANGKAH Aba-aba : Ganti langkah – JALAN Pelaksanaannya : Gerakan
dapat dilakukan pada waktu langkah biasa/tegap. Aba-aba pelaksanaan diberikan
pada waktu kaki kanan/kiri di tanah kemudian ditambah satu langkah. Sesudah
ujung kaki kiri/kanan yang sedang di belakang dirapatkan pada badan. Untuk
selanjutnya disesuaikan dengan langkah baru yang disamakan. Kemudian gerakan
ini dilakukan dalam satu hitungan.
BENTUK-BENTUK BARIS BERBARIS:
· Lingkaran Besar,
· Lingkaran Kecil,
· Setengah Lingkaran,
· Angkare,
· Berderet,
· Kolone Terbuka,
· Berbanjar,
· Bersaf ,
· Roda,
· Selat Balik,
· Selat/Kanon,
· Kolone Tertutup
Sumber/ Referensi : 1. Pedoman Penyelenggaraan Paskibraka - Depdiknas. 2.
Peraturan Baris Berbaris - Pusdiklat TNI-AD
Ini adalah sepenggal materi yg pernah saya pelajari n kubagikan untuk anda.
saya harap anda semua menjadi PRAMUKA yang hebat.
AMIIIEEN. Salam pramuka....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar